Rekor PON Triadi Fauzi Sidik

PEKAN Olahraga Nasional XIX Jawa Barat berlangsung pada 17-29 September 2016. Sejumlah rekor terpecahkan dalam kejuaraan multicabang ini, termasuk oleh perenang tuan rumah, Triadi Fauzi Sidik, yang meraih 8 medali emas—terbanyak dalam sejarah PON.

Triadi ikut membawa Jawa Barat menjadi juara umum, mengungguli Jawa Timur dan DKI Jakarta. Tapi PON kali ini juga diwarnai sejumlah kontroversi, termasuk bias wasit dan penjurian, adanya kericuhan di beberapa arena, serta banyaknya atlet yang kemudian terbukti melakukan doping.

Raih Perak Angkat Besi

DUA lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni, sama-sama meraih medali perak pada Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, Agustus lalu.

Eko meraih medali perak di kelas 62 kilogram putra, sedangkan Sri Wahyuni di kelas 48 kilogram putri. Keduanya memastikan terjaganya “tradisi” medali angkat besi Indonesia di Olimpiade, yang sudah berlangsung sejak 16 tahun lalu. Keberhasilan Sri Wahyuni, 22 tahun, juga menandakan keberhasilan regenerasi di cabang olahraga ini.

Apa Itu Trisomy 13 ? Trisomy 13 Adalah Sindrom Berbahaya

Apa Itu Trisomy 13 – Trisomy 13 atau biasa disebut sebagai sindrom patau adalah kelainan atau adanya gangguan pada kromosom yang ditandai dengan adanya 3 salinan kromosom 13 pada sel-sel tubuh yang pada normalnya hanya 2 salinan.

Banyak orang yang salah mengartikan, mengatakan bahwa trisomy 13 adalah salah satu faktor keturunan. Pada kenyataanya trisomy terjadi bukanlah karena faktor keturunan tetapi adanya kelainan pada saat pembuahan sel telur. Dan juga pada kebanyakan kasus, penderita trisomy 13 jarang bertahan hidup hingga remaja, kebanyakan akan meninggal di tahun pertama kelahiran.

Baca Juga: Tips mencari vendor wedding berkualitas

Beberapa ahli yang pernah meneliti tentang penyebab dari trisomy, mengatakan bahwa kemungkinan besar dari terjadinya trisomy 13 disebabkan usia wanita hamil yang sudah tergolong tinggi, dan juga karena pernah terjadi kasus yang sama pada kelahiran anak sebelumnya. Sehingga untuk orang tua yang pernah melahirkan anak dengan trisomy 13 sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk rencana mempunyai anak selanjutnya karena sangat rentan untuk mempunyai anak dengan trisomy 13.

Penyebab Anak Mengalami Trisomy 13 Adalah Sebagai Berikut:

Ada banyak akibat dari kelahiran anak dengan trisomy 13 adalah dan cukup parah sehingga jarang yang bisa bertahan hidup lama dan beberapa kelainan akibat dari trisomy 13 adalah sebagai berikut:

1. Cacat Lahir

Bayi yang lahir dengan trisomy 13 adalah biasa berat badannya sangat rendah, bahkan sering lahir premature, atau lahir sebelum waktunya. Yang paling utama adalah pada struktur otak mempengaruhi perkembangan wajah pada bayi.

• Mata terlalu berdekatan

• Hidung atau lubang hidung tidak berkembang

• Tangan mengepal

• Sumbing

• Jari yang kurang atau lebih

• Kepala kecil

2. Kesulitan Bernafas (Apnea)

Kesulitan bernafas rentan terjadi pada bayi yang lahir premature, namun biasanya akan sembuh seiring bertambah nya usia bayi, tetapi dengan anak penderita trisomy 13 akan sangat sulit sembuh karena lambatnya perkembang pada pernafasannya, itu sebabnya kebanyakan bayi trisomy 13 meninggal pada usia beberapa minngu setelah lahir.

3. Tidak Bisa Mendengar

Kemampuan mendengar pada bayi sudah dimulai sejak dalam kandungan, seiring berkembangnya jaringa-jaringan dalam tubuh maka kemampuan mendengarnya akan semakin baik, tetapi pada bayi trisomy 13 kebanyakan tidak bisa mendengar karena ssaraf pendengarannya tidak berkembang.

4. Kesulitan Mencerna Makanan

Alat pencernaan yang tidak tumbuh dengan sempurna, menyulitkan trisomy 13 mencerna makanannya, sehingga memperlambat perkembangan pada tubuh yang seharusnya butuh banyak asupan gizi.

5. Seizure/ Kejang

Seizure terjadi karena fungsi otak pada bayi tidak berfungsi dengan normal, pada pendrita trisomy 13 yang pada dasarnya perkembangan struktur otaknya tidak sempurna membuatnya rentan terkena seizure.

Lalu bagaimana perawatan pada trisomy 13? Hal ini hanya bisa dikonsultasikan dengan dokter, karena butuh penangan

Industri Teknologi Keuangan Didorong Bangun Kolaborasi bagian 2

Nurhaida mengatakan setiap transaksi melalui IKD akan diawasi. “Kalau bermasalah dan nilainya besar, akan mengganggu stabilitas sistem keuangan sehingga regulator perlu hadir untuk capture data itu,” ucapnya. OJK mencatat, hingga saat ini, perusahaan fintech P2P lending telah menyalurkan pinjaman total senilai Rp 7,64 triliun atau tumbuh sebesar 20 persen dibanding tahun lalu. Regulator optimistis jika peluang fintech untuk dapat menyalurkan pinjaman khususnya kepada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah masih sangat besar, dari porsi penyaluran saat ini yang hanya 7 persen terhadap total kredit di Indonesia.

Chief Executive Officer (CEO) InternationalFinance Corporation Philippe Le Houerou menambahkan fintech dapat menjadi alternatif untuk membantu mengisi kesenjangan kebutuhan pembiayaan UMKM di dalam negeri, yang saat ini mencapai US$ 166 miliar. “Perkembangannya perlu didorong, dan regulator hanya perlu mengatur terkait dengan keamanan cyber, perlindungan data pribadi, dan peningkatan literasi keuangan, tapi dengan aturan yang fleksibel,” ujarnya. Ketua Asosiasi Fintech Indonesia Niki Luhur berujar, hingga kini, sudah ada 64 perusahaan fintech P2P lending yang terdaftar di OJK.

“Kami optimistis jumlahnya akan lebih besar lagi pertumbuhannya, terlebih masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses perbankan masih 51 persen dari total populasi,” tuturnya. Adapun tingkat rasio pinjaman bermasalah (NPL) industri fintech P2P lending pada Mei lalu tercatat berada di kisaran 0,4 persen, lebih rendah dibanding perbankan, di kisaran 3-4 persen.

Chief Executive Officer (CEO) Akseleran, David Tambunan, mengatakan, meskipun minim agunan, bukan berarti NPL di fintech P2P lending akan melonjak tinggi. Dia mencontohkan, Akseleran, dalam melakukan analisis kredit selalu berfokus pada kemampuan cashflow peminjam. “Kalau enggak ada agunan dalam bentuk fixed asset seperti tanah dan bangunan, belum tentu enggak aman. Yang penting cashflow-nya dan bagaimana kemampuan membayarnya,” tuturnya.

Industri Teknologi Keuangan Didorong Bangun Kolaborasi

Pemerintah mendorong industri keuangan berbasis teknologi keuangan (fintech) untuk membangun kolaborasi, baik antar-pelaku maupun antara pelaku dan lembaga keuangan konvensional lain, termasuk perbankan. “Kami mendorong fintech untuk saling berpartner, tidak perlu berebut market dulu,” ujar Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Lis Lestari Sutijati kemarin. Menurut Lis, kerja sama yang dilakukan dapat menguntungkan tiap pihak, khususnya terkait dengan efisiensi biaya operasional. “Bisa sharing infrastruktur sehingga cost network devices lebih murah,” ucapnya.

Lis berujar, fintech juga dapat membantu meningkatkan inklusi keuangan di masyarakat, yang saat ini masih banyak mengandalkan lembaga keuangan konvensional. Dia mencontohkan perbankan yang memiliki 38 ribu unit laku pandai dengan 900 ribu agen, 104 ribu anjungan tunai mandiri (ATM), dan sekitar 500 ribu mesin electronic data capture (EDC) baru bisa menjangkau 1,5 juta masyarakat yang belum memiliki akses keuangan.

“Peluangnya ada di fintech karena 69 persen masyarakat yang unbanked tadi itu memiliki ponsel sehingga bisa menggunakan layanan fintech,” ujarnya. Kementerian mencatat, khusus fintech pinjam-meminjam atau peer to peer (P2P) lending telah merangkul 199.539 pemberi pinjaman dan 1,85 juta peminjam hingga April 2018. Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nurhaida selanjutnya memastikan bahwa lembaganya juga akan menerbitkan aturan lanjutan untuk P2P lending pada akhir bulan ini.

“Sekarang masih dalam tahap finalisasi, kami menyebutnya Peraturan OJK terkait dengan Inovasi Keuangan Digital (IDK),” tuturnya. Nurhaida menyebutkan aturan baru itu di antaranya akan berfokus pada transparansi dan keterbukaan informasi perusahaan fintech P2P lending, termasuk tentang pemberi pinjaman ataupun pihak peminjam. “Kami paham IKD ini tidak bisa diatur dengan ketat. Sebab, kalau diatur sama dengan industri keuangan, yang ada pasti akan kalah saing, karena mereka baru.”

OJK juga akan mengatur tentang aturan pos pengujian atau regulatory sandbox untukmemantau kelayakan dan kesiapan perusahaan fintech. “Setelah lolos uji, baru akan menerima izin dari OJK. Nanti akan kami atur lebih detailnya,” katanya. Sebelumnya, aturan awal untuk pelaku fintech P2P lending telah terbit, yaitu Peraturan OJK Nomor 77 Tahun 2016 tentang Layanan Pinjam-Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, yang di dalamnya memuat ketentuan untuk melakukan pendaftaran dan pelaporan usaha fintech P2P lending.